CARA PENGOLAHAN UWI DAN GEMBILI
Tanaman uwi dan gembili yang dipanen untuk dimanfaatkan adalah bagian umbi karena banyak mengandung
karbohidrat. Pada masa penjajahan Jepang gembili dijadikan sebagai bahan
pangan. Selain sebagai bahan pangan, gembili dapat diolah menjadi tepung pati
serta sebagai bahan substitusi dalam pembuatan produk olahan seperti kue, mi
instan dan krupuk. Di Afrika umbi di buat juga sebagai bahan dasar industri
pati dan alkohol. Adanya asam Oksalat pada umbi Dioscorea menyebabkan
gatal bila dimakan, tetapi dapat didekomposisi dengan merendam dalam larutan
garam dan untuk jenis Dioscorea Jepang (Nagaimo), Korea (Ma dan Hanja )
kandungan asam okksalat didekomposisi dengan merendam dalam larutan air Cuka.
Pengolahan Discorea hipsida (gadung) menjadi bahan pangan perlu mendapat
perhatian khusus karena gadung mengandung senyawa alkoloida Discokrin cukup
tinggi yang bersifat beracun dan
kadarnya bervariasi sesuai dengan jenisnya
. Pengurangan zat racun dapat dilakukan dengan merendam irisan
tipis umbi Dioacorea dalam air garam
hingga bermalam serta mencuci dalam air mengalir, atau merebus dalam air garam
beberapa kali.
Cara Pembuatan tepung umbi
Dioscorea
· Umbi segar dibersihkan dari
tanah
· Dikupas
· Umbi diiris setebal 0,5 Cm
· Irisan umbi di rendam pada
larutan garam
· Pencucian
· Ditiriskan lalu dikeringkan
dengan Sinar Matahari atau Oven dengan Suhu 50 C selama 18 Jam. Atau 70 C
selama 16 Jam.
· Keripik Umbi (Kadar air kl
12 %)
Produk olahan
uwi yang prospektif untuk dikembangkan pada skala agroindustri:
1. Keripik
Pembuatan keripik uwi dapat di lakukan dengan berbagai metode. Pembuatan
keripik yang paling sederhana adalah pengirisan ubi, penambahan bumbu dan
langsung digoreng (keripik matang). Teknik yang lain adalah dengan mengolah ubi
menjadi keripik setengah jadi. Keripik kering mentah ini dapat digoreng apabila
akan dikonsumsi. Secara garis besar teknik pembuatan keripik ini adalah teknik
pengupasan ubi, perendaman dalam larutan kapur, pengukusan, pemberian bumbu dan
pengeringan. Karateristik produk kering ini menyerupai kerupuk dan tahan lama
disimpan.
2. Tepung
Tepung uwi Dioscorea dapat dimanfaatkan seperti halnya tepung lain, yaitu
sebagai bahan baku/ campuran produk kue, roti dan mie. Penggunaannya dapat
dicampur dengan tepung terigu atau tepung kacang-kacangan untuk meningkatkan
nilai gizinya (tepung komposit). Komposisi tepung campuran disesuaikan dengan jenis
kue/roti yang akan dibuat. Tepung uwi tidak mengandung gluten sehingga untuk
produk-produk olahan tertentu memerlukan pengembangan volume dan tingkat
elastisitas tinggi, seperti roti tawar dan mie, proporsi tepung terigu yang
kaya gluten harus lebih besar dan
pembuatan kue kering, dapat digunakan 100% tepung uwi, namun pembuatan
kue basah “(cake)” perlu dicampur dengan tepung terigu sebanyak 50%.
Pembuatan tepung uwi sangat mudah, dengan menggunakan peralatan sederhana
sehingga dapat dilakukan oleh petani. Kadar air tepung sekitar 6-8,5 %, tahan
lama disimpan beberapa bulan dalam kemasan kantong plastik rapat. Pembuatan
tepung uwi cukup mudah, yakni pengupasan, pengirisan, pengeringan,
penggilingan/penepungan dan pengaya
3. Sawut instan
Sawut instan merupakan produk setengah jadi, berbentuk serpihan kering
dengan kadar air sekitar 10%, tahan lama apabila di simpan dan mudah dalam
penyajian. Teknik pembuatan sawut sangat mudah dan hanya menggunakan peralatan
sederhana, sehingga dapat dilakukan oleh petani. Secara garis besar, pembuatan
sawut adalah pengupasan, penyawutan, pengukusan uwi hingga matang dan
pengeringan. Sawut dapat dikonsumsi sebagai makanan pokok maupun dikonsumsi
sebagai makanan sampingan.
Cara penyimpanan sawut instan adalah dengan menyiram sawut kering dengan
air panas , diaduk, kemudian di kukus sekitar 15 menit hingga lunak. Sebagai
makanan pokok (pengganti nasi), ubi kukus tersebut dikonsumsi bersama sayur dan
lauk lainnya, seperti ikan, telur, dan lain-lain. Sebagai makanan kecil (“snack”),
sawut kukus tersebut dapat di campur dengan larutan gula merah. Selain itu,
adonan sawut kukus yang telah digiling juga dapat dicampur dengan bahan-bahan
lain , seperti telur, terigu dan gula, kemudian digoreng atau dikukus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar